Peraje Tradisi Kebudayaan Suku Sasak

Kebudayaan suku sasak tidak dapat kita pungkiri lagi bahwa tradisi dalam suku ini banyak sekali, salah satunya adalah tradisi Peraje. Ketika anak berusia 9 atau 10 tahun, akan menjalani proses menjelang akil baliq yakni sunatan atau dalam bahasa Sasak disebut besunat. Istilah ini sama dengan masyarakat suku Samawa (Sumbawa). Besunat dilaksanakan untuk melengkapi proses daur hidup masyarakat Sasak seperti halnya masyarakat muslim umumnya.

            Memang tidak banyak perbedaan tradisi besunat dalam masyarakat Sasak dengan dua suku lainnya yakni suku Samawa dan Mbojo. Kegiatan besunat dalam masyarakat tradisional Sasak, merupakan salah satu kegiatan yang membutuhkan persiapan yang cukup panjang. Karena penyelenggaraan besunat akan menjadi salah satu kegiatan besar yang melibatkan masyarakat sosial.


 Salah satu kegitan yang dilakukan sebelum besunat adalah Peraje. Anak laki-laki yang akan melangsungkan acara khitan akan di arak keliling sebelum melakukan ritual sunatan menggunakan Praje. Tradisi ini adalah bagian dari ritual sunat dan merupakan prosesi penyucian terhadap anak yang akan disunat. Namun, tradisi ritual Praje ini sebenarnya tidak wajib dilakukan, semua tergantung dari pihak keluarga anak. Salah satu faktornya adalah mampu atau tidak. Disamping itu juga dalam penggunaan praje ini biasanya diiringi dengan tabuhan musik tradisional asli suku sasak yakni Gendang Beleq, namun saat ini sudah banyak orang yang tidak menggunakan Gendang Beleq sebagai musik pengiringnya, karena dinilai kuno dan terlalu mahal, sehingga mayoritas masyarakat menggunakan sound system, hal inilah yang kemudian dinilai negatif oleh masyarakat yang bukan dari suku sasak asli, musik yang digunakan adalah musik yang tidak mendidik, yaitu musik dangdut, DJ, pop, dan lain sebagainya. Namun pada hakikatnya, Peraje merupakan tradisi asli suku sasak yang harus dilestarikan, memang telah terjadi penyimpangan pada tradisi Peraje ini, tetapi peran kita sebagai masyarakat suku sasak harus meluruskan kembali tradisi yang sudah mendarah daging ini, karena memang pada dasarnya Peraje ini bertujuan untuk meneguhkan keislaman seorang anak, Mempererat tali silaturahmi kepada orang orang disekitar kita, dan mengingatkan kita bahwa indahnya kebersamaan, yaitu dapat terlihat saat orang-orang disekililing kita membantu memonggok peraje itu. Oleh karena itu, alangkah baiknya jika nilai-nilai budaya Peraje yang sudah ada tidak dirubah. Dengan menerapkan kembali kebiasaan-kebiasaan yang dulu dilakukan.

Komentar

  1. bagus, menarik kembangkan lg yea

    BalasHapus
  2. Saya juga kurang setuju dengan budaya peraje saat ini

    BalasHapus
  3. Bagus banget nih, selain menjelaskan jg mengajak kita utk melestarikan budaya sebagaimana mestinya..Jangan sampe orang malah menganggap negatif suatu budaya tsb..good job!!

    BalasHapus
  4. Dapat menambah wawasan kita tentang makna peraje sbnernya

    BalasHapus
  5. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  6. Kita dapat tahu tentang arti dari makna pereje yg sebenarnya.😊😊

    BalasHapus
  7. Postingan yg sangat bermanfaat dan menambah wawasan.

    BalasHapus
  8. berfaedah dalam memberikan pengetahuan akan tradisi dan budaya

    BalasHapus
  9. kebanyakan orang telah salah tafsir tentang peraje saat ini, terima kasih infonya gan

    BalasHapus
  10. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  11. Bangga punya tmn orang sasak 😊

    BalasHapus
  12. Postingan yang menarik dan menambah wawasan

    BalasHapus
  13. Meskipun sy asli bima dan sudah lama tinggal di lombok tp sy bangga bgt karna kebudayaan sasak sgt unik dan luarbiasa

    BalasHapus

Posting Komentar